3 May 2010
Japan, I am coming
Akhirnya saya mendapatkan kesempatan ini juga, hehehe..........senangnya bisa ke Jepang even cuma hitungan jam.
5 Apr 2010
Telaga Sarangan
Sore itu kami bertemu di salah satu resto di dalam gedung terminal 1B keberangkatan, pesawat kami akan take off jam 5.45 PM menuju Solo. Waktu yang ditempuh hanya sekitar 1 jam, jadi sekitar jam 7.15 malam kami sudah sampai di bandara Adi Soemarmo, dan langsung bertemu dengan teman yang menjemput kami, Petaling namanya.
Tujuan kami sebenarnya adalah kota Madiun, dan malam itu pun juga kami langsung menempuh perjalanan sekitar 2-3jam. Dalam perjalanan perut ku sudah keroncongan, hehehe....karena memang sudah waktunya makan malam. Akhirnya sekitar jam 9 malam, Petaling memutuskan untuk berhenti di Sarangan, karena Sarangan ini merupakan sebuah telaga yang menjadi tempat wisata seperti halnya di Puncak Jakarta, udaranya sangat dingin, tapi kami tidak dapat melihat apa-apa karena memang sudah malam. Tempat makan yang paling ramai ada dipojokan sebelah kanan, yaitu Nasi goreng Maut dan ada pilihan menu tambahan, yaitu sate Kelinci yang berjualan tidak jauh dari tempat itu.
Seumur hidup saya belum pernah makan daging Kelinci karena memang tidak tega rasanya, melihat makluk yang imut-imut itu harus dimakan, tapi apa daya malam itu karena rasa lapar yang amat sangat, saya memakannya juga. *maaf ya Kelinci*.
Setelah kenyang kami melanjutkan perjalanan dan tiba di hotel Kartika Abadi, Madiun sekitar jam 11 kurang.
Dalam perjalanan menuju Solo kami kembali mampir ke kawasan wisata telaga Sarangan (telaga Sarangan terletak pada jalur Magetan-Solo, kabupaten Karanganyar) dan tiba disana sekitar jam 10 pagi, wah ternyata ramai sekali, apalagi pas hari minggu. Ternyata disini tersedia beraneka ragam fasilitas untuk wisata, rumah makan, hotel, perahu dayung, speed boat, kuda tunggangan, tempat bermain anak-anak, pasar wisata yang menjual barang-barang suvenir, makanan khas serta sayuran lokal.
Saya sempat naik speed boatnya, lumayan seru, untung sih gak sampe basah-basahan, karena cuma ini baju yang ada buat kembali ke Jakarta, sore nanti. Setelah makan siang kami memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju Solo dan mampir di untuk makan durian meskipun saya secara pribadi kurang menyukai durian.
Perjalanan pun dilanjutkan kembali dan mumpung sudah di Solo kami memutuskan untuk mampir ke Keraton Solo dengan membayar sebesar Rp 2.500,- untuk wisatawan domestik dan Rp 7.500,- untuk wisatawan mancanegara dan membayar tambahan Rp 1.000.- bila membawa kamera. Setiap satu rombongan ditemani oleh abdi dalem yang akan menceritakan tentang sejarah keraton dan hal-hal menarik lainnya yang terjadi baik di dalam maupun diluar seputaran keraton Solo. Berhubung waktu yang kami miliki sangatlah sedikit, maka kami minta agar tur dan penjelasan dapat dipersingkat. Maaf ya Abdi....
Keluar dari keraton kami langsung merembuk apakah ke Pasar Klewer atau ke PGS ? Akhirnya kami memutuskan untuk ke PGS karena siang itu sangat terik dan waktu yang kami punya hanya 2 jam untuk belanja. Saya membeli beberapa buah kain dan satu set seprai corak batik warna merah marun. Teman-teman ku banyak yang kalap membeli batik, katanya mumpung lagi di Solo.
Rasa-rasanya belum puas belanja batik apalagi dalam keadaan terburu-buru, dan ditunggu sama bos. Tapi, harus kami akhiri juga perjalanan ke PGS ini karena pesawat Garuda yang akan membawa kami kembali ke Jakarta akan terbang pada pukul 5 sore.
Setibanya di bandara temanku Petaling membagikan kepada kami masing-masing satu kotak besar bertuliskan merek Brem khas Madiun, yang belakangan saya tahu isinya, berbagai macam keripik, bumbu pecel , tanpa satu pun kotak Brem itu sendiri, yang sepertinya terlupa dimasukan, plus satu kotak sate Ponorogo. Wah, kapan dia mempersiapkannya? Ma kasih ya....
Tiba waktunya masuk ke pesawat dan berpisah ...
Tujuan kami sebenarnya adalah kota Madiun, dan malam itu pun juga kami langsung menempuh perjalanan sekitar 2-3jam. Dalam perjalanan perut ku sudah keroncongan, hehehe....karena memang sudah waktunya makan malam. Akhirnya sekitar jam 9 malam, Petaling memutuskan untuk berhenti di Sarangan, karena Sarangan ini merupakan sebuah telaga yang menjadi tempat wisata seperti halnya di Puncak Jakarta, udaranya sangat dingin, tapi kami tidak dapat melihat apa-apa karena memang sudah malam. Tempat makan yang paling ramai ada dipojokan sebelah kanan, yaitu Nasi goreng Maut dan ada pilihan menu tambahan, yaitu sate Kelinci yang berjualan tidak jauh dari tempat itu.
ini dia tempat kami makan
Seumur hidup saya belum pernah makan daging Kelinci karena memang tidak tega rasanya, melihat makluk yang imut-imut itu harus dimakan, tapi apa daya malam itu karena rasa lapar yang amat sangat, saya memakannya juga. *maaf ya Kelinci*.
sate Kelinci
yang jualan sate Kelinci
mejeng depan salah satu hotel hanya untuk dapat tulisan Sarangan :D
Setelah kenyang kami melanjutkan perjalanan dan tiba di hotel Kartika Abadi, Madiun sekitar jam 11 kurang.
Dalam perjalanan menuju Solo kami kembali mampir ke kawasan wisata telaga Sarangan (telaga Sarangan terletak pada jalur Magetan-Solo, kabupaten Karanganyar) dan tiba disana sekitar jam 10 pagi, wah ternyata ramai sekali, apalagi pas hari minggu. Ternyata disini tersedia beraneka ragam fasilitas untuk wisata, rumah makan, hotel, perahu dayung, speed boat, kuda tunggangan, tempat bermain anak-anak, pasar wisata yang menjual barang-barang suvenir, makanan khas serta sayuran lokal.
Saya sempat naik speed boatnya, lumayan seru, untung sih gak sampe basah-basahan, karena cuma ini baju yang ada buat kembali ke Jakarta, sore nanti. Setelah makan siang kami memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju Solo dan mampir di untuk makan durian meskipun saya secara pribadi kurang menyukai durian.
Perjalanan pun dilanjutkan kembali dan mumpung sudah di Solo kami memutuskan untuk mampir ke Keraton Solo dengan membayar sebesar Rp 2.500,- untuk wisatawan domestik dan Rp 7.500,- untuk wisatawan mancanegara dan membayar tambahan Rp 1.000.- bila membawa kamera. Setiap satu rombongan ditemani oleh abdi dalem yang akan menceritakan tentang sejarah keraton dan hal-hal menarik lainnya yang terjadi baik di dalam maupun diluar seputaran keraton Solo. Berhubung waktu yang kami miliki sangatlah sedikit, maka kami minta agar tur dan penjelasan dapat dipersingkat. Maaf ya Abdi....
Keluar dari keraton kami langsung merembuk apakah ke Pasar Klewer atau ke PGS ? Akhirnya kami memutuskan untuk ke PGS karena siang itu sangat terik dan waktu yang kami punya hanya 2 jam untuk belanja. Saya membeli beberapa buah kain dan satu set seprai corak batik warna merah marun. Teman-teman ku banyak yang kalap membeli batik, katanya mumpung lagi di Solo.
Rasa-rasanya belum puas belanja batik apalagi dalam keadaan terburu-buru, dan ditunggu sama bos. Tapi, harus kami akhiri juga perjalanan ke PGS ini karena pesawat Garuda yang akan membawa kami kembali ke Jakarta akan terbang pada pukul 5 sore.
Setibanya di bandara temanku Petaling membagikan kepada kami masing-masing satu kotak besar bertuliskan merek Brem khas Madiun, yang belakangan saya tahu isinya, berbagai macam keripik, bumbu pecel , tanpa satu pun kotak Brem itu sendiri, yang sepertinya terlupa dimasukan, plus satu kotak sate Ponorogo. Wah, kapan dia mempersiapkannya? Ma kasih ya....
Tiba waktunya masuk ke pesawat dan berpisah ...
15 Mar 2010
Dreamland, Bali
I don't know why but I really liked this picture. The one, I used in my profile picture.
We came to Bali, my friend and I, were to visit our friends and met their families too. We stayed at hotel Melasti for 3 nights. Arrived there about at 9.20 o'clock in the morning. We have a lot of time to do. Unfortunately, our friends still busy at their office, remembering that day was friday. We start to sightseeing in Bali in the afternoon, since Melasti was in Kuta beach area, we explored there. I'd like to feel the g-max sensations, but it took two persons to go. So, I skipped it. Passed the Double six, I'd like to try bungy jumping but my friends didn't allow me to do that...poor me!!! everything I like to try, banned, gees....
Sent from britira's BlackBerry®
We came to Bali, my friend and I, were to visit our friends and met their families too. We stayed at hotel Melasti for 3 nights. Arrived there about at 9.20 o'clock in the morning. We have a lot of time to do. Unfortunately, our friends still busy at their office, remembering that day was friday. We start to sightseeing in Bali in the afternoon, since Melasti was in Kuta beach area, we explored there. I'd like to feel the g-max sensations, but it took two persons to go. So, I skipped it. Passed the Double six, I'd like to try bungy jumping but my friends didn't allow me to do that...poor me!!! everything I like to try, banned, gees....
Sent from britira's BlackBerry®
3 Mar 2010
7 jam di Singapore
Setelah drama hampir ketinggalan pesawat, dalam hati saya tertawa, "hihihi....akhirnya saya merasakannya juga". Mudah-mudahan ini yang pertama dan yang terakhir, amin.
Setelah menghabiskan nasi lemak dan milo, saya tidur karena perjalanan ini menghabiskan waktu 2 jam 20 menit. Oh ya pada saat di bandara Soetta, saya sempat membeli bantal tiup, tapi akhirnya tidak pernah dipergunakan karena bantal tersebut selalu kempes kembali pada saat saya hendak menutupkan tutupnya.
Setelah pemeriksaan paspor dan pengambilan bagasi, kami langsung mencari papan petunjuk arah menuju Skytrain ke Terminal 2, kami tiba di Terminal 1. Dari sini nantinya kami akan ke basement untuk menunggu bus ke Budget Terminal untuk menitipkan koper-koper kami ke Left Luggage dengan membayar sebesar 7 sgd, 5sgd untuk koper ukuran sedang dan 2sgd untuk koper ukuran kecil. Lalu kembali menuju Terminal 2, dan menuju arah ke MRT untuk ke pusat kota (Train to city).
menunggu bus ke Budget Terminal
Ini bukan pertama kalinya saya ke Singapore, tapi baru kali saya masuk melalui Changi. Harga tiket MRT dari Changi menuju Bugis sebesar 2.5 sgd. Sebenarnya jika kita transit di Changi lebih dari 5 jam, ada tawaran dari bandara Changi yaitu Free Singapore Tour (FST), bisa daftar di Terminal 2&3, Transit Malls.
Merlion
Tapi tidak kami ambil karena kami hanya ingin belanja di Bugis dan berfoto ria di depan patung Merlion. That's all!.
Hasil tiap keping
Setelah proses check in dan pemeriksaan paspor, teman-teman dan saya mulai mengorek-ngorek dompet masing-masing, untuk menghabiskan setiap keping uang dolar Singapore. Hasilnya, saya membeli pembatas buku, majalah gosip OK, sebatang besar coklat Toblerone dan sebuah payung dengan tempat penyimpanan yang cantik.
25 Feb 2010
cita rasa Bangkok
...sambungan Phang Nga Bay
Setelah 1 jam dan 20 menit penerbangan, akhirnya kami tiba di bandara Suvarnabhumi, Bangkok. Bandaranya luas, besar dan megah. Cukup jauh untuk menemukan posisi bagage claim dan kami pun harus menunggu cukup lama untuk mengambil bagasi, kami tiba jam 8 malam dan baru mendapatkan bagasi sekitar jam 9, yang artinya jemputan dari bangkoktransferservice telah menunggu kami selama 1 jam. Kami semua setuju untuk menggunakan jasa antar jemput, bandara-hotel-bandara mengingat kami tiba pada malam hari, dan akan pulang pada pagi hari, juga karena banyaknya barang bawaan alias koper. Untuk sekali perjalanan dikenakan biaya sebesar 1100 bath, untuk maksimal kapasitas sekitar 10 orang. Jenis kendaraan disesuaikan dengan keinginan dan/atau banyaknya jumlah orang, kendaraan kami minivan commuter Toyota.
menuju parkiran
Dalam perjalanan menuju hostel, ditengah perjalanan kendaraan kami dihentikan oleh Polisi. Kami beranggapan bahwa sedang ada pemeriksaan rutin atau razia. Tenang pasti nanti kita akan segera dilepas setelah mengetahui bahwa kami turis, pikirku. Tapi ternyata kenyataannya berbeda, mereka meminta paspor kami, sebagai identitas tentunya, dan meminta kami untuk turun dari kendaraan. Langsung saya mengingatkan teman-teman saya untuk membawa turun tas tangan mereka untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan terjadi. Akhirnya kami diijinkan untuk meneruskan perjalanan, dalam sisa perjalanan itu kami bertanya ke Supir "ada apa? apakah sedang ada yang dicari atau bagaimana?" ternyata jawabannya "Polisi disini biasa itu, kalo melihat kendaraan plat kuning (bener gak ya kuning), pasti minta jatah". Kami pun bertanya "jadi Anda memberikan sesuatu kepada Polisi tadi?. Supir itu pun menjawab, "tenang saja, saya tidak mau, karena saya tidak salah", dan Ia pun langsung menghubungi kantornya untuk melaporkan kejadian yang baru saja Ia alami. Ah, ternyata...!!!
interior di Wild Orchid Villa
Setelah sekitar hampir 1 jam (mustinya bisa 35 menit saja kalo tidak ada insiden di atas) kami sampai di wildorchidvilla tempat kami akan menginap selama 2 malam.
suasana di Wild Orchid Villa
Hostel ini merupakan salah satu hostel yang letaknya dekat dengan khaosanroad yang terkenal diantara para backpacker. Ia terletak di pusat kota Bangkok, hanya 3 menit untuk sampai ke Khao San road yang dapat dicapai dengan berjalan kaki, bahkan ke Grand Palace, Emerald Budha, Wat Pho dan Sungai Chao Phraya.
Tiba di hostel, saya memberikan selembar kertas yang berisikan pesanan kamar online kami kepada resepsionis, lalu resepsionisnya menawarkan saya untuk masuk ke kamar terlebih dahulu baru nanti turun untuk melakukan pembayaran dan pendataan.
Namanya juga hostel, jadi tidak ada yang namanya LIFT. Saat kunci kamar diserahkan kami baru tahu, ternyata ada 2 kamar yang di lantai 3 (twin bed), 1 kamar di lantai 4 dan 5 (double bed). Kenapa gak bisa satu lantai saja bareng-bareng ya??? Saya memilih yang dilantai 3, wah kebayang donk capeknya saya, karena saya bawa koper bukan tas ransel, apalagi koper saya sudah bertambah beratnya, hehehe....Sampai kamar saya langsung cek kamar mandi, ternyata air panasnya berfungsi, syukurlah, bisa dikatakan luas kamar hostel di Bangkok ini lebih kecil dari yang kami tempati di Phuket. Pada saat hendak menyalakan pendingin ruangan, kami berdua bingung, kok gak bisa? mana remotenya? Tanya ke kamar sebelah, tanya ke kamar atas, semuanya sama, tidak ada remote. Akhirnya saya turun ke lantai 1, dan dibenarkan bahwa remote AC baru akan diberikan pada saat kami sudah memberikan data-data kami. Naik lagi saya ke setiap lantai dan kamar untuk mengambil paspor dan berjanji untuk bertemu kembali di lobi hotel 45 menit kemudian
Mereka mengharuskan adanya uang deposit sebesar 1000 bath atau meninggalkan paspor sebagai jaminan. Tadinya saya ragu untuk menjadikan paspor sebagai jaminan, namun dia menyakinkan saya bahwa banyak yang melakukannya sambil membuka laci yang penuh dengan paspor (diberikan tanda terima), untuk setiap 1 kamar dijaminkan 1 paspor.
Mereka mengharuskan adanya uang deposit sebesar 1000 bath atau meninggalkan paspor sebagai jaminan. Tadinya saya ragu untuk menjadikan paspor sebagai jaminan, namun dia menyakinkan saya bahwa banyak yang melakukannya sambil membuka laci yang penuh dengan paspor (diberikan tanda terima), untuk setiap 1 kamar dijaminkan 1 paspor.
Setelah pembayaran kamar, saya baru bisa istirahat, mandi dan segar kembali, seperti biasa tidak terasa lagi capeknya, hahaha......itu saya, tapi kalo teman-teman saya sih maunya langsung tidur. Saya bilang, kalo mau tidur di Jakarta saja, kita cuma punya waktu sedikit di Bangkok. Akhirnya mereka setuju karena memang sudah lapar juga. Bayangkan terakhir kali makan berarti pada saat di atas kapal di laut Andaman. (kalo saya sih, sudah makan di dalam pesawat, nasi lemak dan milo).
makan malam pertama di Bangkok
Sebelum keluar hostel, tanya arah ke jalan Khao San dulu, sama resepsionis. Hostel ini juga memiliki banyak brosur dan peta yang bisa dilihat ditempat. Keluar dari hostel belok kanan, belok kiri, kanan lagi, lalu lurus saja, sampe degh. Sepanjang perjalanan, saya sambil menikmati suasananya dan mencari-cari mana kira-kira tempat makan yang halal. Ternyata rada susah booo....Lalu kami memutuskan untuk makan di depan Barlamphu, karena aroma masakannya yang sedap, sedangkan Barlamphunya sendiri ada live music, suara penyanyinya bagus. Gak nyesel juga makan disini...hehehe.....
Barlamphu
mejeng dolo
Pagi berikutnya, jam 8 kami semua siap untuk berkeliling Bangkok. Ya minimal, yang wajib dilihat selama di Bangkok lah, hehehe.... Waktu kami cuma 1 hari ini saja. Otomatis tempat pertama yang kami kunjungi yaitu Grand Palace, karena cuma berjarak 900 meter dari tempat kami menginap. Dapat ditempuh dengan berjalan kaki, tapi karena ingin mencoba naik tuk tuk, ya sudahlah, kami naik tuk tuk. Masuk ke Grand Palace, dikenakan biaya 350 bath. Lanjut ke Wat Pho, yang jaraknya berdekatan, bayar 50 bath untuk bisa melihat Sleeping Budha. Ternyata apa yang sering saya baca di salah satu milis yang saya ikuti, benar adanya, kalau banyak sekali calo/supir tuk tuk di luar Wat Pho, yang mengatakan, "Wat Pho tutup, karena ini hari minggu", tapi saya tidak mengubrisnya. Benar saja, sesampainya di loket pintu masuk, terpampang dengan jelas kalau Wat Pho buka setiap hari, dari jam 08:00-18:00.
naik tuk tuk ke Grand Palace, 100 bath
mejeng di depan The Chakri Maha Prasat Hall
The upper terrace of Grand Palace
mejeng di depan Sleeping Budha, Wat Pho
Tujuan kami berikutnya adalah Wat Arun, sebenarnya ingin sekali melihat Wat Arun pada saat fajar atau senja, karena sesuai nama lain dari Wat Arun itu, Temple of the dawn. Refleksi cahaya yang dipantulkan katanya sih cantik, tapi mengingat waktu yang terbatas. Ya sudahlah, menjelang waktu makan siang kami menuju Wat Arun. Dari Wat Pho ke dermaga menuju Wat Arun kami naik taksi, bayar 80 bath. Untuk sampai ke dermaga, kami melewati pasar, yang banyak menjajakan makanan. Ah, jadi lapar, kebetulan sudah waktunya makan siang. Pas di pinggir sungai Chao Phraya, sebelum loket masuk untuk naik perahu, kami melihat ada tempat makan yang ramai dan aroma masakannya harum sekali. Seperti biasa, akhirnya kami makan siang disini. Ongkos untuk menyebrangi sungai, 3 bath.
maksi sebelum menyebrang ke Wat Arun
Wat Arun (Temple of the Dawn)
Kami tak lama di Wat Arun karena masih gerimis, tapi tetep bo kalo buat foto-foto sih, gak boleh terlewatkan.
di depan Wat Arun
Tujuan kami berikutnya adalah kawasan belanja, yang pertama akan kami tuju yaitu Chatuchak Market, kebetulan hari sabtu, pas banget. Pasar ini cuma buka hari sabtu dan minggu, sesuai nama lainnya Weekend Market. Setelah kembali menyebrangi sungai Chao Phraya, kami kembali naik tuk tuk menuju stasiun BTS skytrain National Stadium. Kami sempat salah arah, maklum wong ndeso, hehehe....Seharusnya kami turun di Siam untuk ganti jalur ke Sukhumvit Line, lalu turun di Mochit. Untuk menuju pasar ini, bisa juga naik MRT subway yang juga dikenal dengan Bangkok Metro, turun di Khampaeng Phet.
Chatuchak Market
siapa yang laper...?
mejeng di depan HRC Bangkok
mal Ma Boon Krong yang wajib dikunjungi
Khao San Road
simpati untuk Haiti
makan sup ayam
Red District, Patpong
Nina dan saya ngobrol ngalor ngidul, kesana kemari sambil merapikan barang-barang ke dalam koper, tanpa terasa waktu berlalu dan kami tersadar kalau waktu sudah menunjukkan pukul 03:00 dini hari, padahal seharusnya jam 4 pagi saya sudah harus bangun dan siap-siap. Lain halnya dengan Nina, dia santai karena penerbangannya jam 5 sore. Akhirnya saya minum sebutir ctm dan memasang alarm tepat pukul 04:00 pagi.
Tiba-tiba alarm sudah berbunyi saja........yang herannya saya langsung terbangun dan merasa segar (memang beda banget aura liburan itu, bawaannya semangat terus....hihihihi....). Sebelum mandi saya langsung keluar kamar dan naik ke lantai 4 dan 5, untuk memastikan kalau teman-teman sudah terbangun. Lalu kembali ke kamar, mandi, say goodbye to Nina dan menurunkan koper dari lantai 3 ke lobbi.
Rupanya jemputan kami sudah datang, mereka tepat waktu, mengingat penerbangan kami menuju Singapore jam 07:05 pagi. Sambil menunggu yang lain, saya ke resepsionis untuk mengambil kembali paspor-paspor yang dijadikan jaminan. Waktunya berpisah dengan hostel, mari bergaya di pagi buta....... :D
pagi-pagi bergaye
di antara kantuk dan kamera
bandara Suvarnabhumi jam 5 pagi
Sambil menunggu antrian yang cukup panjang di konter Air Asia, kami pun bergaya. Ternyata kami harus membayar kelebihan berat bagasi sebesar 400 bath. Setelah mendapatkan boarding pass masing-masing, saya yang tadinya sudah memakai high heels, langsung menggantinya dengan sendal jepit hijau Hush Puppies, entah kenapa. Mulai mencari pintu masuk menuju pemeriksaan paspor, ternyata ada dua tempat pemeriksaan, Air Asia masuk di pintu E.
Saat masuk ke tempat pemeriksaan paspor, antriannya sudah panjang, karena disekat dan banyaknya penumpang yang hendak ke luar dari Bangkok, it was crowded, membuat tempat itu terlihat sempit dan tidak nyaman. Entah pemeriksaannya yang lama atau jumlah petugas yang kurang atau penumpangnya yang sedang banyak, ketika paspor saya di berikan cap tanda bertolak, waktu sudah menunjukkan pukul 07. Teman kami, Leo dan Janti sudah terlebih dahulu selesai dan saya meminta mereka untuk jalan duluan. (mereka antri di barisan yang berbeda dengan kami berempat).
Dalam perjalanan menuju boarding gate saya bersyukur karena tadi sempat mengganti high heels ke sendal, karena ternyataaaaa jauh sekali, dan karena saking terburu-burunya kami melewatkan papan petunjuk menuju ruang tunggu kami. Setibanya saya dan Oi di ruang tunggu, kami mendapati ruang tunggu itu kosong dan hanya ada dua orang petugas dan satu penumpang yang terlambat juga. Ketika kami bertanya kepada petugas, dan sangat disayangkan tidak lancar berbahasa Inggris, mereka hanya menjawab, "it's closed".
Diantara rasa mau pingsan dan dicampur rasa menahan hendak ingin buang air kecil, saya melirik ke jam di tangan saya, yang menunjukkan jam 07:15 Lalu berpaling ke penumpang yang bukan teman saya itu, saya lihat paspornya Thailand. Saya ajak dia berbicara, untuk bisa menyampaikan ke petugas yang tidak kompeten itu bahwa kesalahan tidak pada kami, tapi karena pemeriksaan paspor yang begitu lama, dan bla bla bla.... Pada saat saya berbicara dengan orang Thailand itu, teman saya Lindri pun sibuk mengoceh panjang kali lebar dengan kedua petugas Air Asia. Singkat cerita, ketika saya di toilet, teman saya memanggil, "Ra, cepetan". Rupanya petugas Air Asia itu masih punya hati nurani, kami diantar ke pesawat melalui landasan menggunakan mobil operasional bandara. Setibanya di dalam pesawat, semua mata memandang kami. Dalam hatiku, "maaf, tapi ini tidak semuanya kesalahan kami". Akhirnya lega sudah, bisa duduk di dalam pesawat, kalau tidak kami harus membeli tiket lagi untuk pulang langsung ke Jakarta.
Diantara rasa mau pingsan dan dicampur rasa menahan hendak ingin buang air kecil, saya melirik ke jam di tangan saya, yang menunjukkan jam 07:15 Lalu berpaling ke penumpang yang bukan teman saya itu, saya lihat paspornya Thailand. Saya ajak dia berbicara, untuk bisa menyampaikan ke petugas yang tidak kompeten itu bahwa kesalahan tidak pada kami, tapi karena pemeriksaan paspor yang begitu lama, dan bla bla bla.... Pada saat saya berbicara dengan orang Thailand itu, teman saya Lindri pun sibuk mengoceh panjang kali lebar dengan kedua petugas Air Asia. Singkat cerita, ketika saya di toilet, teman saya memanggil, "Ra, cepetan". Rupanya petugas Air Asia itu masih punya hati nurani, kami diantar ke pesawat melalui landasan menggunakan mobil operasional bandara. Setibanya di dalam pesawat, semua mata memandang kami. Dalam hatiku, "maaf, tapi ini tidak semuanya kesalahan kami". Akhirnya lega sudah, bisa duduk di dalam pesawat, kalau tidak kami harus membeli tiket lagi untuk pulang langsung ke Jakarta.
So long Bangkok.........
23 Feb 2010
Phang Nga Bay (James Bond Island, canoeing trip)
Hari ketiga di Phuket, sesuai dengan jadwal tur kami ke Phang Nga Bay, seperti halnya kemarin, kami pun dijadwalkan untuk dijemput jam 8 pagi, tapi karena cowok-cowok itu lelet (ayo yang ngerasa ngacung) kami dijemput lagi jam 8 lewat (sempat khawatir kalo dianggap tidak ada dan ditinggal). Sambil mengunggu, kami check out dan menitipkan koper-koper kami di resepsionis, untuk dijemput oleh Jctour jam 3 sore.
Perjalanan menuju dermaga dari tempat kami menginap melalui rute yang sama, hanya saja kalau ke Phi Phi Island kami harus belok ke kiri nah hari ini kami belok ke arah sebaliknya di persimpangan jalan tersebut (lupa namanya, maaf).
Sesampainya di dermaga, kami langsung dikumpulkan untuk mendengarkan pengarahan singkat dan diberikan sticker berwarna pink bertuliskan TONY dan harus ditempelkan dibaju masing-masing. Lalu kami naik ke kendaraan semacam tuktuk, perjalanan sekitar 2 menit dan langsung antri untuk naik ke kapal (ferry/big boat). Pada saat naik ke kapal kami disuruh bergaya karena memang akan difoto dan fotonya nanti dapat diambil pada saat mau pulang, dengan harga 100 bath per foto.
yang kami sebut Tuk Tuk
bergaya sambil menunggu penumpang lain naik
smile
menuju Bat Cave

Selama di dalam Bat Cave saya sebisa mungkin menahan napas karena ternyata bau sekali....Jadi kami difasilitasi sebuah senter untuk mencari kira-kira dimana lokasi para pemakan buah-buahan yang beraktifitas pada malam hari itu tidur.
penerangan senter
si pemakan buah-buahan
naik turun kapal untuk canoeing
di dalam Diamond Cave
Entah fenomena alam apa yang terjadi, tapi batu-batu di dalam Diamond Cave itu cantik. Untunglah dengan penerangan senter yang seadanya itu, saya bisa mengabadikan batu cantik itu bersama kami.
makan siang di atas kapal
Jadi selama perjalanan kami naik turun dari kapal dan pindah ke canoe agar kami bisa menjelajah masuk ke Bat Cave, Diamond Cave, dll. Sedangkan untuk menuju ke Pulau James Bond, kami naik a long-tail boat. Di James Bond terdapat toko-toko kecil yang menjual suvenir dan mutiara. Waktu yang diberikan di setiap tempat berbeda-beda, ada yang hanya 30 menit namun ada pula yang hampir 1 jam, yaitu di titik terakhir, Lawa Island.
Di sini, diberikan kesempatan bagi siapa saja yang mau mendayung canoe (self padling) atau berenang ke pulau terdekat, karena kapal tidak bersandar di pantai. Kami memutuskan untuk beristirahat saja di atas kapal, mengingat kami harus langsung ke bandara untuk mengejar penerbangan kami pada pukul 18.45 sore itu juga menuju Bangkok. Dalam perjalanan pulang, pihak tur memberikan hiburan kepada kami yang telah kelelahan dengan memutar musik dan memunculkan ladyboys ala mereka.
a little entertainment
Setibanya kami di dermaga kami langsung menemukan van JcTour yang telah memuat koper-koper kami. Badan rasanya lengket sekali waktu itu, gerah, tapi tidak sempat untuk mandi.
Sesampainya di bandara, kami langsung antri di konter Air Asia, pemeriksaan paspor dan setelah masuk ke ruang tunggu, ternyata kami masih memiliki waktu sekitar 30 menit lagi. Tanpa banyak pikir saya langsung, menuju kamar kecil, untuk menyegarkan badan dan berganti pakaian.
bersambung...
22 Feb 2010
Phi Phi Island
Hari kedua...
Tepat jam 8 pagi kami dijemput oleh tur, lalu ke Sea Blue Guest House, menjemput beberapa teman kami yang menginap di sana,
Tepat jam 8 pagi kami dijemput oleh tur, lalu ke Sea Blue Guest House, menjemput beberapa teman kami yang menginap di sana,
lalu kami juga menjemput 2 orang bule di Phuket Town, sehingga ada 14 orang dalam van yang kami tumpangi.
Dalam perjalanan menuju dermaga kami melewati deretan rumah-rumah yang telah dibangun kembali setelah gelombang tsunami yang mengikis dan menyapu Phuket tahun 2004 silam. Sayang fotonya blur.
Sebelum naik ke speedboat, tour guide kami memperkenalkan diri dan memberikan pengarahan singkat mengenai apa yang boleh dan tidak dilakukan selama perjalanan.
Miss Tanya
Namanya Tanya dan dia meyakinkan kami semua untuk tidak pernah melupakan muka dan namanya, atau akan ditinggal. *lol* Karena kami akan sering naik turun speedboat untuk berhenti di satu tempat selama 30-45 menit bahkan 1 jam. formasi lengkap
Dalam paket tur ini, kami mendapatkan welcome drink di dermaga, alat snorkeling, life jacket, makan siang, minuman selama perjalanan namun tidak untuk fin, tapi cukup membayar 100 bath untuk menyewanya.
gaya sebelum berangkat
akhirnya sampai juga di Maya Bay
Setelah perjalanan yang saya lupa persisnya berapa lama itu, kami tiba di Maya Bay, yang merupakan salah satu lokasi syuting film yang di bintangi oleh Leonardo Dicaprio, tahun 2000 'the beach' .
snorkeling time
Makan siang di Phi Phi Don
Setelah lelah, bersnorkeling ria di Hin Klang (mudah-mudahan gak salah nama tempat), kami diantar untuk makan siang di Phi Phi Don, makanannya enak, sesuai dengan selera kami semua. Disekitar tempat makan ini ada toko-toko kecil yang menjual baju-baju atau suvenir lainnya yang bertuliskan Phi Phi Island.
ikan-ikan di Khai Island berebutan roti
bersantai di Khai Island
Sampai di dermaga, mereka menawarkan foto-foto kami seharga 100 bath, yang mereka ambil pada saat kami hendak naik ke kapal. Kebetulan foto saya hasilnya lagi ok, jadi saya ambil degh, *wink.
bersambung ke hari ketiga...
Subscribe to:
Posts (Atom)

